Elergi Rindu

Elegi Rindu

Kutatap mentari dengan cahayanya
Yang terus menyilaukan mata
Sambil kuhapus tiap tetes-tetes air
Yang mengalir memudarkan rona pipiku
Bibirku terasa membeku
Jantungku tak berdetak sexta
Dalam keheningan yang coba ku nyanyikan
Tersebutlah kata cinta
Dalamnya rindu terpaku dalam kalbu
Aku tahan perihnya rasa pilu
Walau hakikatnya rasa pilu itu
Membuatku bertahan melawan perihnya rindu
Menunggu datangnya cinta sejatiku
Lalu terkatub kedua kelopak mataku
Ku kunci kedua bibir yang tak lagi fasih
Tuk melafalkan kalimat-kalimat cinta
Sebab ku pikir anggota tubuhkutelah menggambarkan rasa di hatiku
Kututupi separuh lebih dari rasa itu
Berharap hanya tuhan yang tahu
Cobaku berpaling dari gemerlapnya cinta
Mengobati luka perih sebab merindu
Dengan nyanyian-nyanyian syahdu bercampur pilu
Tapi,malah ku semakin tak tahu arah
Terjebak dalam semak-semak dan belantaranya hutan
Hingga itu menambah perih luka batinku
Butiran-butiran air mata yang menghujani pipiku
Tak sanggup lagi meredakan rasa sakitnya
Jauh dalam hatiku terpatri kyat
Sebuah kata yang Belem sempat kulantunkan
Haruskah ia ku pendam dalam-dalam
Bersama seribu kata yang lain?
Inilah elegi tentang rasa rinduku
Yang kian lama masih kusimpan
Kini mungkin satina kudendangka
Sambil menanti getar cinta yang menghampiriku
Aku terdiam tapi tidak untuk membisu
Aku buta tapi tidak untuk cinta
Aku rindu tapi tudak ingin merindu
Meski aku tahu bahwa rasa rindu
Sempurnakan penantian panjangku